-->

Thursday, March 27, 2025

Belanda Membawa Keberuntungan atau Kekejian?

Sejarah Indonesia sebagai bangsa yang terjajah oleh Belanda selama lebih dari tiga abad telah membentuk identitas dan luka yang sulit dilupakan. Namun, satu pertanyaan sering muncul di benak sebagian pengamat sejarah: jika saja Belanda tidak memperlakukan Indonesia sebagai jajahan, dan tidak mempersekusi penduduk pribumi, mungkinkah Belanda tetap berada di Indonesia tanpa perlu terjadi proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945?

Selama berabad-abad, Belanda tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai lumbung rempah-rempah dan hasil bumi dunia, tetapi juga mengukuhkan hierarki yang menempatkan orang Eropa di puncak piramida sosial. Bukan hanya penaklukan secara militer dan ekonomi yang dilakukan, tetapi juga konstruksi budaya yang merendahkan martabat masyarakat pribumi. Imaji visual atau stereotype yang dibangun Belanda tentang penduduk pribumi menjadi bagian penting dari kontrol sosial tersebut.

Orang Belanda membayangkan bahwa penduduk pribumi adalah sosok yang patuh, penurut, dan penakut. Imaji itu terus diproduksi lewat buku, gambar, foto-foto kolonial, hingga karya sastra yang menggambarkan rakyat Indonesia sebagai masyarakat yang lugu dan mudah diarahkan. Stereotip ini tidak hanya dimiliki oleh pemerintah kolonial, tetapi juga oleh masyarakat Eropa yang belum pernah menginjakkan kaki di Hindia Belanda.

Bahkan lebih dari itu, penduduk Indonesia dalam gambaran orang asing sering disebut sebagai penakut, neurotik, namun ekstrovert, ramah, dan hangat. Tapi sekaligus, mereka dianggap malas, hidup hanya untuk hari ini tanpa memikirkan masa depan, tidak disiplin, dan sangat percaya takhayul. Semua ini membentuk persepsi bahwa orang Indonesia adalah bangsa yang bisa dikendalikan tanpa perlawanan berarti.

Tak heran jika sebagian kalangan di Eropa saat itu meyakini, selama Belanda mampu menjaga “keseimbangan” dalam hubungan kolonial ini, Indonesia akan tetap menjadi bagian dari Hindia Belanda untuk waktu yang sangat lama. Mereka percaya, masyarakat pribumi akan tetap tunduk selama kebutuhan dasarnya terpenuhi dan tidak ada tekanan yang berlebihan.

Namun, kenyataannya berjalan tidak seperti yang dibayangkan. Pemerintah kolonial Belanda justru melakukan tindakan-tindakan represif yang menciptakan luka dalam. Sistem tanam paksa, kerja rodi, hingga eksploitasi besar-besaran atas hasil bumi Nusantara dilakukan tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat. Stereotip “penurut” yang mereka percaya, justru meledak menjadi perlawanan-perlawanan di berbagai wilayah.

Dari Perang Diponegoro, Perang Aceh, hingga pemberontakan-pemberontakan kecil yang terus menyala sepanjang abad ke-19, menunjukkan bahwa masyarakat pribumi bukanlah bangsa yang pasrah. Mereka memang sopan dan menghormati, tetapi jauh di dalam, ada harga diri dan semangat melawan yang hanya menunggu saatnya meledak.

Ironisnya, apabila Belanda sejak awal memposisikan Indonesia sebagai wilayah setara, bukan sekadar koloni, kemungkinan besar Indonesia tidak akan pernah merasa perlu memerdekakan diri. Seandainya sejak awal Belanda membangun pemerintahan bersama, melibatkan orang-orang Indonesia dalam pengambilan keputusan, dan tidak membangun sekat rasial, Indonesia mungkin akan menjadi bagian dari “Kerajaan Belanda Raya” seperti yang diterapkan Inggris dengan beberapa wilayah dominion-nya.

Apalagi, Indonesia saat itu memiliki posisi yang strategis dan sumber daya yang melimpah. Belanda sebenarnya memiliki kesempatan besar untuk memperkuat posisinya tanpa perlu berkonflik langsung dengan semangat kemerdekaan rakyat Indonesia. Namun, arogansi kolonial dan keyakinan pada stereotip yang mereka bangun sendiri membuat mereka gagal membaca potensi perlawanan rakyat.

Bahkan ketika Jepang datang pada 1942 dan dengan cepat mengalahkan Belanda di Asia Tenggara, rakyat Indonesia tidak menunjukkan tanda-tanda ingin membela pemerintah kolonial yang sudah berkuasa selama 350 tahun. Sebaliknya, sebagian besar justru menganggap kejatuhan Belanda sebagai peluang langka untuk membebaskan diri dari belenggu kolonialisme.

Setelah Jepang menyerah pada Sekutu tahun 1945, Belanda mencoba kembali ke Indonesia. Namun, semangat kemerdekaan rakyat sudah tak terbendung. Perlawanan fisik dan diplomasi terus dilakukan. Stereotip tentang rakyat Indonesia yang “takut konfrontasi” ternyata jauh meleset. Mereka mungkin menghindari konfrontasi dalam keseharian, namun saat menyangkut hak dan martabat, rakyat Indonesia tidak ragu mengangkat senjata.

Fakta lain yang tak kalah penting adalah bagaimana rakyat Indonesia telah belajar selama masa kolonial. Meski pendidikan bagi pribumi dibatasi, banyak tokoh pergerakan nasional yang justru lahir dari sistem pendidikan Belanda sendiri. Pemikiran modern, nasionalisme, hingga strategi politik, dipelajari lalu digunakan untuk melawan kolonialisme itu sendiri.

Jika saja Belanda lebih memahami karakter masyarakat Indonesia yang sesungguhnya, mungkin sejarah akan berbeda. Jika mereka tidak hanya melihat rakyat sebagai buruh perkebunan atau pelengkap pasar, tetapi sebagai mitra sejajar, bukan tidak mungkin Indonesia tetap menjadi bagian dari Belanda dalam bentuk yang lebih setara.

Kenyataannya, Belanda terlalu lama terjebak dalam stereotip yang mereka ciptakan. Mereka menilai rakyat Indonesia malas, tapi justru rakyat Indonesia yang selama masa tanam paksa menyulap lahan-lahan sulit menjadi perkebunan kopi, tebu, dan nila yang produktif. Mereka menganggap rakyat Indonesia takut, tapi justru perlawanan bersenjata dari Aceh hingga Jawa membuat Belanda harus menghabiskan biaya dan korban jiwa yang tak sedikit.

Kini, Indonesia telah lama berdiri sebagai negara merdeka. Belanda hanya menjadi bagian dari catatan sejarah. Namun, pertanyaan itu tetap relevan: jika saja Belanda tidak memperlakukan Indonesia sebagai koloni semata, akankah Indonesia merasa perlu untuk merdeka?

Mungkin, Indonesia tetap akan mencari jati diri. Namun, sejarah tidak bisa dilepaskan dari perlakuan buruk yang diterima rakyat pribumi. Persekusi, eksploitasi, dan peminggiran membuat proklamasi kemerdekaan bukan hanya pilihan, tetapi keharusan.

Indonesia hari ini adalah negeri yang bangga atas kemerdekaannya. Di tengah segala tantangan yang ada, rakyatnya tetap hangat, ramah, dan sopan. Tapi sejarah telah membuktikan bahwa di balik semua itu, bangsa ini tidak pernah takut untuk melawan ketika kehormatan dan masa depan mereka dipertaruhkan.

Dibuat oleh AI

Unknown

Pemilihan nama Pesantren Siniang sebagai nama tim perawatan Masjid di Sininag dalam kapasitas sebagai putra dan anak-anak almarhum Jureman Marbun (Mahmun Syarif Marbun) bertujuan untuk memberi motivasi kepada pihak yang terlibat dan warga untuk menjadi kiyai minimal dalam keluarga masing-masing.

0 comments:

Post a Comment

Start Work With US

Contact Us
PESANTREN SINIANG
+123-456-789