PESANTREN SINIANG

UNTUK

image
Mengenai

Tim Pesantren Siniang

Pesantren Siniang adalah nama sebuah tim perawatan Masjid Siniang, Pakkat, Humbang Hasundutan, yang dibuat dalam kapasitas sebagai anak-anak almarhum Jureman Marbun atau akrab disapa Mahmun Syarif Marbun saat studi di Pesantren Musthafawiyah, Purba Baru.

Nama tim ini digagas putra ketiga Julkifli Marbun, MA, dan disetujui H. Ahmad Jubeir sebagai putra sulung, yang prihatin dengan perawatan masjid yang dibangun oleh almarhum dan abangdanya Buya Ali Akbar Marbun, pengasuh Pesantren Al Kautsar Al Akbar dan sejumlah donatur. Semasa hidupnya, almarhum mendedikasikan hidupnya untuk merawat masjid dan kini tradisi tersebut diteruskan oleh anak-anaknya.


Kegiatan
Kebersihan

Kebersihan Kompleks

Perawatan

Listrik, Air dan Linnya

Kegiatan Lainnya

Untuk Kebersamaan


Pengajian
Haul

Untuk Para Almarhum

Maulid Nabi

Peringatan Bersama

Israk Mikraj

Kerja Sama dengan Lain


Motto
Kebersamaan
Gotong Royong
Dedikasi
Motivasi

764

Awards Won

1664

Happy Customers

2964

Projects Done

1564

Photos Made

WHAT CAN WE DO

Pengajian

Mendorong pengajian bulanan bagi warga dan anak-anak di sekitar

Tahfiz Alquran

Memotivasi warga untukmenghafal Alquran dan pelajaran agama lainnya

Bahtsul Masail

Membuat Diskusi Keluarga seperti yang sering dibuat alm. Jureman Marbun

Perayaan

Menggiatkan berbagai kegiatan perayaan hari besar Islam

Dokumentasi

Mendokumentasikan kegiatan oleh tim atau yang lain di Masjid Siniang

Lainnya

Hal lainnya yang mendorong kebersamaan, iman dan solidaritas

INFO

Galeri Kegiatan di Masjid Siniang 2019

ilustrasi
PESANTREN SINIANG -- Berbagai kegiatan di Masjid Siniang, Pakkat Humbang Hasundutan, Sumatera Utara di tahun 2019.

Foto diambil dari berbagai akun Facebook sebagai berikut:




Kembali ke Menu Utama || PKBM Pakkat || Pesantren Lae Toras || Alumni || KBAA || Yayasan Mahmun Syarif Marbun || PMPSNews || Pesantren Berbagi || PKBM Kata Bijak

Tahun 2020, Pembimbing Manasik Haji Wajib Bersertifikasi

ilustrasi
PESANTREN SINIANG -- Keberadaan pembimbing manasik haji Indonesia merupakan salah satu bagian penting dalam pelaksanaan ibadah haji maupun umrah di Tanah Air. Pembimbing manasik haji dari KBIH-KBIH inilah yang menjadi pemandu jamaah saat berada di Indonesia maupun di Arab Saudi. Namun, dari sebegitu banyak pembimbing manasik haji di Indonesia baru sekitar 70 persen tersertifikasi. Sisanya masih menunggu proses sertifikasi atau pun belum memiliki sertifikat dari lembaga terkait

Menurut Dirjen PHU Kementerian Agama RI, Nizar Ali, pada 2020 menjadi tenggat waktu bagi KBIH di Indonesia agar melengkapi diri pembimbingnya dengan lisensi (sertifikasi) dari pihak terkait. Dengan begitu penyelenggarakan pembimbingan manasik, umrah dan haji yang dilaksanakan semakin profesional.

"Sekarang ini baru 70 persen saja pembimbing masik yang tersertifikasi dan sisanya 30 persen belum. Tahun 2020 mendatang, sertifikasi itu menjadi salah satu syarat kewajiban bagi KBIH yang menyelenggarakan pembimbingan haji dan umrah," tegas Nizar Ali, saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan sertifikasi pembimbing manasik haji profesional yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang bekerja sama dengan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Muhammadiyah/aisyiyah Jateng di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Sabtu (23/2).

Nizar Ali menegaskan, pemerintah sudah membuat kebijakan bahwa pemberian sertifikasi pembimbing ini hanya diberikan sekali sekali dalam seumur hidup dan berlaku selamanya. Itu artinya penyelenggara bimbingan haji tidak perlu lagi melakukan perpanjangan atau pun akreditasi lagi. Karen perpanjangan dan akreditasi sudah terbilang jadul dan malah memberatkan.

"Terobosan sertifikasi ini memberikan kemudahan-kemudahan, baik bagi penyelenggara sertifikasi atau pembimbing haji," tandasnya.

Dikatakan, saat ini sudah ada perguruan tinggi keagamaan yang sudah bisa menyelenggarakan uji sertifikasi. Setidaknya ada 11 perguruan tinggi yang diberikan otoritas untuk melakukan sertifikasi di Indonesia atau kerja sama dalam manasik haji.

"Yang kita bidik adalah perguruan tinggi keagamaan, atau perguruan tinggi swasta. Sehingga peluang ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin," katanya.

Hadir dalam acara pembukaan sertifikasi pembimbing manasik haji profesional itu, Rektor UIN Walisongo Semarang Prof Dr H Muhibbin MAg, pimpinan Wilayah Muhammadiyah Tafsir MAg, penguji, dan puluhan peserta sertifikasi. (sumber)

Kembali ke Menu Utama || PKBM Pakkat || Pesantren Lae Toras || Alumni || KBAA || Yayasan Mahmun Syarif Marbun || PMPSNews || Pesantren Berbagi || PKBM Kata Bijak

Buku Mahakarya Islam Nusantara: Dokumentasi Khazanah Keilmuan Islam

ilustrasi
PESANTREN SINIANG -- Dalam sebuah forum kajian Turats Ulama Nusantara di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Ahmad Ginanjar Sya’ban pernah mengatakan bahwa Nusantara memiliki khazanah penaskahan yang luar biasa kaya. Naskah-naskah ini lahir dari ulama-ulama asli Nusantara yang menjadi referensi utama dunia keilmuan. Tapi ironis, Indonesia sendiri tidak memilikinya. Naskah tersebut malah banyak tersimpan bukan hanya di Asia Tenggara tetapi juga di berbagai perpustakaan dunia Barat, dan Timur Tengah.

Di Timur Tengah, banyak naskah ulama Nusantara yang mencapai ribuan. Naskah-naskah itu tersimpan dan tersebar di pelbagai perpustakaan di Mekah, Riyadh, Baghdad Mesir, Istanbul Turki dan di Qum Iran. Dan kategori naskah ini adalah kategori naskah penting dalam rentang abad yang sangat lama, antara abad ke 17 M – 20 M, bahkan sampai abad 21 M. Menandai samudera kekayaan intelektual dan keagungan khazanah literatur Islam Nusantara yang demikian luas dan kaya.

Sayangnya, belum ada sarjana yang mengkajinya secara mendalam dan memetakan sejarah literatur Islam Nusantara tersebut secara runut, paling tidak dengan membuat ensiklopedi akannya. Hal ini seakan menandakan adanya sebuah “ruang kosong” (farâgh) dalam wilayah kajian ini, padahal sangat penting.

Buku Mahakarya Islam Nusantara; Kitab, Naskah, Manuskrip & Korespondensi Ulama Nusantara karya Ahmad Ginanjar lahir sebagai ikhtiar untuk mengisi ruang kosong tersebut (sadd al-farâgh). Sekaligus sebagai upaya awal menuju penggagasan “bibliografi karya-karya ulama Nusantara”, semacam ensiklopedi yang memberikan kita data sekaligus bentangan peta akan khazanah karya-karya intelektual ulama Nusantara sepanjang lintasan sejarah.

Dalam Buku ini, Ahmad Ginanjar berhasil menyajikan hasil penelusurannya tentang kitab-kitab langka itu dalam pelbagai bidang. Mulai dari ilmu kalam (teologi), fikih (yurisprudensi Islam), tasawuf, filsafat, tata negara (siyasah al-daulah), etika, sejarah, gramatika, matematika, kedokteran, dan banyak lagi kitab atau naskah unik yang diulas di buku ini. Ia menyebut Khazanah keilmuan itu sebagai “Mahakarya Islam Nusantara” yang tentu sangat tidak ternilai harganya.

Dialektika Intelektual Antara Ulama Nusantara & Timur Tengah

Mendaras turats ulama nusantara sangat penting. Kita dapat menemukan bagaimana terjadinya koneksi ulama Nusantara dengan ulama Timur Tengah sebagai bagian dari proses transmisi ajaran Islam. Bagaimana terjadinya dialektika budaya Islam dengan budaya lokal sebagai konsekuensi logis dari proses Islamisasi Nusantara.

Karya-karya ulama Nusantara dan persoalan Islam di Nusantara yang ditulis Ulama Timur Tengah itu mencapai ratusan jumlahnya. Sebagian ada yang dapat diakses dan dikaji, dan sebagian lagi masih berupa naskah-manuskrip yang “tertimbun” di sebalik “peti-peti” perpustakaan dunia, baik di Nusantara, Eropa, atau pun di Timur Tengah.

Salah satu kitab yang diulas Ginanjar dalam buku ini adalah adalah Imta’ Uli al-Nazahar bi Ba’dh A’yan al-Qarn al-Rabi ‘Asyar , yaitu kitab yang memuat Biografi Ulama Nusantara Abad ke-14 H. Kitab terlengkap pertama dalam bahasa Melayu karangan Syaikh Nuruddin Al-Raniri (1054 H/ 1644 M). Kitab ini terhitung penting karena juga memuat silsilah sanad (mata rantai keilmuan), sekaligus jaringan ulama di Mekkah pada abad ke 14 H.(hlm. 3). Sedangkan kitab yang menghimpun sanad ulama-ulama Nusantara berjudul al-’Iqd al-Farid min Jawahir al-Asanid karangan Syaikh Yasin al-Fadani.(553).

Ginanjar juga berhasil mendokumentasikan kitab-kitab yang berisi jawaban atas perdebatan fikih maupun akidah yang terjadi di Nusantara. Sebut saja kitab ‘al-Jawabat al-Gharawiyyah li al-Masail al-Jawiyyah al-Juhriyyah; berisi fatwa-fatwa ulama Madinah untuk masalah Islam Nusantara Pasca Walisongo. (1070 H/ 1659 M). Kitab Kasyf al-Muntazhir li ma Yarahu al-Muhtadhir; Kitab Syaikh Ibrahim Kurani tentang tradisi kematian muslim Nusantara abad ke-17 M yang tak terlacak di Timur Tengah (Abad ke-17 M). Dan yang paling fenomenal adalah kitab Risalah ‘Abd al-Ghani fi Hukm Syaith al-Wali; berisi pandangan ulama Damaskus atas masalah Syaikh Siti Jenar di Nusantara abad ke-18 M.

Dari uraian kitab-kitab tersebut, inilah yang dimaksud Ginanjar bahwa ada proses transmisi ajaran Islam, dialektika intelektual atau dialog ilmiah antara Ulama-ulama Nusantara dan Timur Tengah. Dialektika ini tidak hanya berwujud karya ilmiah, tapi juga berbentuk korespondensi seperti kitab al-Durar al-Saniyyah (Surat Ulama Nusantara untuk Sultan Turki-Ottoman) (hlm. 623), juga polemik tentang persoalan tertentu seperti kitab al-Madzhab (kitab yang merekam perdebatan kaum tua dan kaum muda di Nusantara awal abad 20). (hlm. 85). Dan tidak kalah menarik ulasan kitab “Nuzhah al-Afham..” tentang polemik hukum rokok karya Syekh Dahlan Tremas.(hlm. 321).

Tidak hanya itu, dalam bukunya, Ginanjar menunjukkan keberhasilannya menemukan dan mengungkap kitab langka seperti Tadzkirah al-Gabi fi Syarh al-Hikam, karya Syaikh Burhanuddin Ulakan Padang. Keberadaan karya ini pada mulanya mahjul (tidak diketahui) dan dianggap hilang Karena tidak terlacak, hingga akhirnya ditemukan dan diungkap kembali oleh al-Fadhil Buya Apria dan Chairullah.(hlm. 80).

Komitmen Kebangsaan

Buku ini mengajak pembaca mengenal lebih jauh kitab klasik (kitab kuning) karya ulama nusantara. Rangkain ulasan kitab maupun manuskrip yang disusun Ginanjar ini adalah upaya membangun pemahaman keislaman sekaligus semangat kebangsaan. Hal ini bisa terwakili dengan mengungkap beberapa karya seperti Kitab Tsamrah al-Muhimmah, sebuah kitab pusaka Tata Negara Melayu-Nusantara. Kitab Nazam Sejarah Besar Nahdlatul Ulama (NU) karya KH. Abdul Halim Leuwimunding dan Kitab Pusaka Presiden Soekarno berjudul al-‘Audah ila Iktisyaf Tsauratina.

Kitab terakhir tersebut didapatkan A. Ginanjar didapatkan dari perpustakaan Biblioteka Alexandria Mesir. Merupakan terjemahan dari buku berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita yang berasal dari pidato Soekarno di HUT RI ke-14. Memuat pandangan revolusioner Soekarno, diantaranya menjelaskan tentang Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan falsafah hidup khas Nusantara, yaitu gotong royong atau al-Ta’awun al-Musytarak. Di kancah perpolitikan dunia Arab masa itu, kitab ini membuat Indonesia punya pengaruh besar.

Karya A Ginanjar Sya’ban ini merupakan mozaik dan bukti otentik karya-warisan ulama Nusantara yang menjadi dokumen penting khazanah keilmuan Islam. Sebuah langkah awal dalam “proyek peradaban” untuk mengungkap ratusan bahkan ribuan naskah tentang Islam Nusantara yang siap kembali “menginfasi” Timur Tengah dan dunia Islam pada umumnya. (sumber)

Kembali ke Menu Utama || PKBM Pakkat || Pesantren Lae Toras || Alumni || KBAA || Yayasan Mahmun Syarif Marbun || PMPSNews || Pesantren Berbagi || PKBM Kata Bijak

Start Work With US

Contact Us
PESANTREN SINIANG
+123-456-789