PESANTREN SINIANG

UNTUK

image
Mengenai

Tim Pesantren Siniang

Pesantren Siniang adalah nama sebuah tim perawatan Masjid Siniang, Pakkat, Humbang Hasundutan, yang dibuat dalam kapasitas sebagai anak-anak almarhum Jureman Marbun atau akrab disapa Mahmun Syarif Marbun saat studi di Pesantren Musthafawiyah, Purba Baru.

Nama tim ini digagas putra ketiga Julkifli Marbun, MA, dan disetujui H. Ahmad Jubeir sebagai putra sulung, yang prihatin dengan perawatan masjid yang dibangun oleh almarhum dan abangdanya Buya Ali Akbar Marbun, pengasuh Pesantren Al Kautsar Al Akbar dan sejumlah donatur. Semasa hidupnya, almarhum mendedikasikan hidupnya untuk merawat masjid dan kini tradisi tersebut diteruskan oleh anak-anaknya.


Kegiatan
Kebersihan

Kebersihan Kompleks

Perawatan

Listrik, Air dan Linnya

Kegiatan Lainnya

Untuk Kebersamaan


Pengajian
Haul

Untuk Para Almarhum

Maulid Nabi

Peringatan Bersama

Israk Mikraj

Kerja Sama dengan Lain


Motto
Kebersamaan
Gotong Royong
Dedikasi
Motivasi

764

Awards Won

1664

Happy Customers

2964

Projects Done

1564

Photos Made

WHAT CAN WE DO

Pengajian

Mendorong pengajian bulanan bagi warga dan anak-anak di sekitar

Tahfiz Alquran

Memotivasi warga untukmenghafal Alquran dan pelajaran agama lainnya

Bahtsul Masail

Membuat Diskusi Keluarga seperti yang sering dibuat alm. Jureman Marbun

Perayaan

Menggiatkan berbagai kegiatan perayaan hari besar Islam

Dokumentasi

Mendokumentasikan kegiatan oleh tim atau yang lain di Masjid Siniang

Lainnya

Hal lainnya yang mendorong kebersamaan, iman dan solidaritas

INFO

Buku Mahakarya Islam Nusantara: Dokumentasi Khazanah Keilmuan Islam

ilustrasi
PESANTREN SINIANG -- Dalam sebuah forum kajian Turats Ulama Nusantara di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Ahmad Ginanjar Sya’ban pernah mengatakan bahwa Nusantara memiliki khazanah penaskahan yang luar biasa kaya. Naskah-naskah ini lahir dari ulama-ulama asli Nusantara yang menjadi referensi utama dunia keilmuan. Tapi ironis, Indonesia sendiri tidak memilikinya. Naskah tersebut malah banyak tersimpan bukan hanya di Asia Tenggara tetapi juga di berbagai perpustakaan dunia Barat, dan Timur Tengah.

Di Timur Tengah, banyak naskah ulama Nusantara yang mencapai ribuan. Naskah-naskah itu tersimpan dan tersebar di pelbagai perpustakaan di Mekah, Riyadh, Baghdad Mesir, Istanbul Turki dan di Qum Iran. Dan kategori naskah ini adalah kategori naskah penting dalam rentang abad yang sangat lama, antara abad ke 17 M – 20 M, bahkan sampai abad 21 M. Menandai samudera kekayaan intelektual dan keagungan khazanah literatur Islam Nusantara yang demikian luas dan kaya.

Sayangnya, belum ada sarjana yang mengkajinya secara mendalam dan memetakan sejarah literatur Islam Nusantara tersebut secara runut, paling tidak dengan membuat ensiklopedi akannya. Hal ini seakan menandakan adanya sebuah “ruang kosong” (farâgh) dalam wilayah kajian ini, padahal sangat penting.

Buku Mahakarya Islam Nusantara; Kitab, Naskah, Manuskrip & Korespondensi Ulama Nusantara karya Ahmad Ginanjar lahir sebagai ikhtiar untuk mengisi ruang kosong tersebut (sadd al-farâgh). Sekaligus sebagai upaya awal menuju penggagasan “bibliografi karya-karya ulama Nusantara”, semacam ensiklopedi yang memberikan kita data sekaligus bentangan peta akan khazanah karya-karya intelektual ulama Nusantara sepanjang lintasan sejarah.

Dalam Buku ini, Ahmad Ginanjar berhasil menyajikan hasil penelusurannya tentang kitab-kitab langka itu dalam pelbagai bidang. Mulai dari ilmu kalam (teologi), fikih (yurisprudensi Islam), tasawuf, filsafat, tata negara (siyasah al-daulah), etika, sejarah, gramatika, matematika, kedokteran, dan banyak lagi kitab atau naskah unik yang diulas di buku ini. Ia menyebut Khazanah keilmuan itu sebagai “Mahakarya Islam Nusantara” yang tentu sangat tidak ternilai harganya.

Dialektika Intelektual Antara Ulama Nusantara & Timur Tengah

Mendaras turats ulama nusantara sangat penting. Kita dapat menemukan bagaimana terjadinya koneksi ulama Nusantara dengan ulama Timur Tengah sebagai bagian dari proses transmisi ajaran Islam. Bagaimana terjadinya dialektika budaya Islam dengan budaya lokal sebagai konsekuensi logis dari proses Islamisasi Nusantara.

Karya-karya ulama Nusantara dan persoalan Islam di Nusantara yang ditulis Ulama Timur Tengah itu mencapai ratusan jumlahnya. Sebagian ada yang dapat diakses dan dikaji, dan sebagian lagi masih berupa naskah-manuskrip yang “tertimbun” di sebalik “peti-peti” perpustakaan dunia, baik di Nusantara, Eropa, atau pun di Timur Tengah.

Salah satu kitab yang diulas Ginanjar dalam buku ini adalah adalah Imta’ Uli al-Nazahar bi Ba’dh A’yan al-Qarn al-Rabi ‘Asyar , yaitu kitab yang memuat Biografi Ulama Nusantara Abad ke-14 H. Kitab terlengkap pertama dalam bahasa Melayu karangan Syaikh Nuruddin Al-Raniri (1054 H/ 1644 M). Kitab ini terhitung penting karena juga memuat silsilah sanad (mata rantai keilmuan), sekaligus jaringan ulama di Mekkah pada abad ke 14 H.(hlm. 3). Sedangkan kitab yang menghimpun sanad ulama-ulama Nusantara berjudul al-’Iqd al-Farid min Jawahir al-Asanid karangan Syaikh Yasin al-Fadani.(553).

Ginanjar juga berhasil mendokumentasikan kitab-kitab yang berisi jawaban atas perdebatan fikih maupun akidah yang terjadi di Nusantara. Sebut saja kitab ‘al-Jawabat al-Gharawiyyah li al-Masail al-Jawiyyah al-Juhriyyah; berisi fatwa-fatwa ulama Madinah untuk masalah Islam Nusantara Pasca Walisongo. (1070 H/ 1659 M). Kitab Kasyf al-Muntazhir li ma Yarahu al-Muhtadhir; Kitab Syaikh Ibrahim Kurani tentang tradisi kematian muslim Nusantara abad ke-17 M yang tak terlacak di Timur Tengah (Abad ke-17 M). Dan yang paling fenomenal adalah kitab Risalah ‘Abd al-Ghani fi Hukm Syaith al-Wali; berisi pandangan ulama Damaskus atas masalah Syaikh Siti Jenar di Nusantara abad ke-18 M.

Dari uraian kitab-kitab tersebut, inilah yang dimaksud Ginanjar bahwa ada proses transmisi ajaran Islam, dialektika intelektual atau dialog ilmiah antara Ulama-ulama Nusantara dan Timur Tengah. Dialektika ini tidak hanya berwujud karya ilmiah, tapi juga berbentuk korespondensi seperti kitab al-Durar al-Saniyyah (Surat Ulama Nusantara untuk Sultan Turki-Ottoman) (hlm. 623), juga polemik tentang persoalan tertentu seperti kitab al-Madzhab (kitab yang merekam perdebatan kaum tua dan kaum muda di Nusantara awal abad 20). (hlm. 85). Dan tidak kalah menarik ulasan kitab “Nuzhah al-Afham..” tentang polemik hukum rokok karya Syekh Dahlan Tremas.(hlm. 321).

Tidak hanya itu, dalam bukunya, Ginanjar menunjukkan keberhasilannya menemukan dan mengungkap kitab langka seperti Tadzkirah al-Gabi fi Syarh al-Hikam, karya Syaikh Burhanuddin Ulakan Padang. Keberadaan karya ini pada mulanya mahjul (tidak diketahui) dan dianggap hilang Karena tidak terlacak, hingga akhirnya ditemukan dan diungkap kembali oleh al-Fadhil Buya Apria dan Chairullah.(hlm. 80).

Komitmen Kebangsaan

Buku ini mengajak pembaca mengenal lebih jauh kitab klasik (kitab kuning) karya ulama nusantara. Rangkain ulasan kitab maupun manuskrip yang disusun Ginanjar ini adalah upaya membangun pemahaman keislaman sekaligus semangat kebangsaan. Hal ini bisa terwakili dengan mengungkap beberapa karya seperti Kitab Tsamrah al-Muhimmah, sebuah kitab pusaka Tata Negara Melayu-Nusantara. Kitab Nazam Sejarah Besar Nahdlatul Ulama (NU) karya KH. Abdul Halim Leuwimunding dan Kitab Pusaka Presiden Soekarno berjudul al-‘Audah ila Iktisyaf Tsauratina.

Kitab terakhir tersebut didapatkan A. Ginanjar didapatkan dari perpustakaan Biblioteka Alexandria Mesir. Merupakan terjemahan dari buku berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita yang berasal dari pidato Soekarno di HUT RI ke-14. Memuat pandangan revolusioner Soekarno, diantaranya menjelaskan tentang Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan falsafah hidup khas Nusantara, yaitu gotong royong atau al-Ta’awun al-Musytarak. Di kancah perpolitikan dunia Arab masa itu, kitab ini membuat Indonesia punya pengaruh besar.

Karya A Ginanjar Sya’ban ini merupakan mozaik dan bukti otentik karya-warisan ulama Nusantara yang menjadi dokumen penting khazanah keilmuan Islam. Sebuah langkah awal dalam “proyek peradaban” untuk mengungkap ratusan bahkan ribuan naskah tentang Islam Nusantara yang siap kembali “menginfasi” Timur Tengah dan dunia Islam pada umumnya. (sumber)

Kembali ke Menu Utama || PKBM Pakkat || Pesantren Lae Toras || Alumni || KBAA || Yayasan Mahmun Syarif Marbun || PMPSNews || Pesantren Berbagi || PKBM Kata Bijak

31 Personil Polisi Sidempuan Ikut Pesantren Kilat

ilustrasi pesantren kilat
PESANTREN SINIANG -- Sebanyak 31 orang personil kepolisian yang bertugas di Polres Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, ikut serta menjalani kegiatan pesantren kilat yang digelar di Mapolres Padangsidimpuan, Sabtu (10/11/2018).

Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan ini dibuka lansung oleh Kapolres Padangsidimpuan AKBP Hilman Wijaya, sekira pukul 17.00 WIB, dan diharapkan menjadi pelopor penggerak revolusi mental bagi masyarakat.

Kegiatan yang juga diikuti berbagai elemen masyarakat, dari dalam dan luar negeri, diantaranya, sebanyak 100 orang siswa sekolah di Padangaidimpuan, 15 pegawai Dinas Perhubungan (Dishub), sedangkan peserta dari luar negri 10 orang dari Thailand dan 5 orang dari India.

Dalm sambutannya Kapolres Kota Padangsidimpuan mengatakan, kegiatan itu bertujuan sebagai revolusi mental bagi personil kepolisian yang bertugas di Polres Kota Padangsidimpuan khusus dan umumnya bagi masyarakat di Kota Salak.

"Dahulunya personil itu masih banyak melakukan kesalahan, melalui kegiatan ini bisa diperbaiki sesuai dengan tema kegiatan pelopor penggerak revolusi mental," tuturnya kepada wartawan.

Banyak yang akan diperoleh personil dalam kegiatan pesantren kilat ini, terutama untuk meningkatkan disiplin. Jika sebelumnya mereka sering terlambat untuk melaksanakan tugas, dengan adanya acara ini, maka mental-mental seperti itu akan dapat diubah. Seorang polisi harus memiliki mental yang sehat, sehingga dalam menjalankan tugas, dia selalu ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk mengisi kegiatan pesantren kilat itu, pihaknya sebagai pelopor sengaja mengundang ulama-ulama yang ada di Padangsidimpuan."Alhamdulillah, ketika kami ajak untuk mengisi acara itu, mereka semua mendukung," tandasnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Padangsidimpuan, Zulfan Effendi Hasibuan mengaki bangga dengan kegiatan yang digagas oleh Polres Kota Padangsidimpuan.

Secara pribadi, bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan seorang pemimpin (Kapolres) dari kalangan orang yang beriman, peduli terhadap agama Allah dan masyarakat."Kalau saya menilai, kegiatan pesantren kilat ini sudah bisa dikategorikan bertaraf internasional, karena diikuti peserta dari luar negeri," tandasnya. (sumber)




Kembali ke Menu Utama || PKBM Pakkat || Pesantren Lae Toras || Alumni || KBAA || Yayasan Mahmun Syarif Marbun || PMPSNews || Pesantren Berbagi || PKBM Kata Bijak

Begini Manajemen Pengelolaan Rumah Tahfidz

ilustrasi
PESANTREN SINIANG -- Mengingat perkembangan jumlah Rumah Tahfidz terus meningkat di Sumsel perlu diadakan Workshop Manajemen Pengelolaan Rumah Tahfidz, Masjid Tahfidz, Sekolah Tahfidz, Corporate Tahfidz, pada Sabtu (31/5/2014) pukul 08.30-12.00.

Diawali dhuhaa bersama, zikir asmaul husna dipandu oleh Ustadz Masagus HA Fauzan Yayan SQ (Penggerak Rumah Tahfidz Sumsel, Kaltim, NTB, Bangka Barat, Hongkong) bertempat di Rumah Tahfidz Rachmad Jl Seruni Komplek Buana Gardenia Bukit Lama Palembang.

"Infak Rp 100 ribu per rumah tahfidz dapat buku panduan Rumah Tahfidz, panduan 8 cara Asyik Hafal Qur'an, buku setoran, makan siang bersama.

Mohon kirim utusan perwakilan Rumah Tahfidz. Info: ust Amrullah 081333333813 ust Faizin 0853 3065 7810 sms-center: 0813 8834 8164 pin bb: 26C0DF87 www.rumahtahfidzkiaimarogan.com fb: rumah tahfidz terapung," ungkap Ustadz Masagus HA Fauzan Yayan SQ, Minggu (25/5/2014)

Sementara ustad Yayan juga menyerukan untuk gerakan wakaf buku untuk santri rumah tahfidz.

Wakaf memiliki nilai lebih dibanding dengan bentuk derma lainnya, wakaf identik dengan amal jariyah yakni satu dari tiga amal anak Adam yang tidak akan pernah putus pahalanya. Rumah Tahfidz di Sumsel sudah berjumlah 60 lebih, semuanya dikelola secara swadaya masyarakat anak-anak santri mayoritas kaum dhu'afa, yatim, piatu.

Masing-masing rumah dihuni 10 anak muqim dan warga lingkungan sekitar. Pelajaran utama mereka adalah menghafal Al-Quran.

Untuk mengoptimalkan belajar mereka terutama yang jauh dari perkotaan dan minimnya guru perlu tambahan buku bacaan yang berkualitas terutama yang berkaitan dengan pemahaman dan hafalan Al-Quran.

"Maka dari itu kami menawarkan kepada bapak/ibu untuk terlibat dalam Wakaf Buku ini dengan harga satuan Rp 50 ribu. Minimal wakaf 10 buah buku jadi Rp 500 ribu (sudah termasuk ongkos anter buku ke rumah-rumah tahfidz). Nama pewakaf akan ditempelkan di buku," jelas Yayan.

Adapun judul buku meliputi: Kiat Jitu Bersahabat dengan Al-Qur'an, 8 Cara Asyik Hafal Al-Qur'an, Kun The Winner; Hari-hari Bersama Ust.Yusuf Mansur. Sasaran distribusi buku dapat diusulkan oleh pewakaf atau diserahkan kepada Forum Rumah Tahfidz Sumsel yang membagikan.

"InsyaAllah dengan amalan wakaf ini mengalir pahala dan doa dari santri rumah tahfidz. Keuntungan dari wakaf buku ini juga untuk operasional Jaringan Rumah Tahfidz Kiai Marogan (RTKM)," terangnya.

Cara daftar wakaf buku: isi formulir dan nama lengkap pewakaf, dana dpt disalurkan via bank Syariah Mandiri 018 03 75480 call-center 0857 9144 4420  sms-center: 0813 8834 8164 info: fb: rumahtahfidzterapung, www.rumahtahfidzterapung.org datang ke: Jaringan RTKM-Rumah Tahfidz Rachmad, Jl Seruni Komplek Buana Gardenia Bukit Lama Palembang telp.0711-5640869. (sumber)

Kembali ke Menu Utama || PKBM Pakkat || Pesantren Lae Toras || Alumni || KBAA || Yayasan Mahmun Syarif Marbun || PMPSNews || Pesantren Berbagi || PKBM Kata Bijak

Start Work With US

Contact Us
PESANTREN SINIANG
+123-456-789