Ketulusan Kunci Damai Suriah dan SDF
Ketulusan menjadi faktor utama dalam upaya perdamaian antara pemerintah Suriah dan Syrian Democratic Forces (SDF). Perjanjian damai yang ditandatangani di timur laut Suriah memang menyisakan ruang interpretasi berbeda, namun jika kedua belah pihak menunjukkan itikad jujur, peluang integrasi wilayah menjadi semakin realistis.
Kondisi ini bisa dianalogikan seperti Tiongkok yang berhasil mengintegrasikan Hongkong dan Macao. Dua wilayah yang sebelumnya memiliki sistem tersendiri kini berada dalam satu kesatuan politik, ekonomi, dan sosial, sambil tetap mempertahankan perkembangan lokal masing-masing.
Dalam konteks Suriah, keberhasilan integrasi SDF ke struktur negara pusat dapat menghadirkan keuntungan serupa. Suriah berpotensi memperkuat kedaulatan nasional sekaligus memaksimalkan potensi ekonomi dan sosial wilayah Kurdi secara harmonis.
Perumpamaan lain adalah Alaska dan Hawaii di Amerika Serikat. Meskipun berada jauh dari daratan utama, kedua wilayah tersebut berhasil berintegrasi penuh ke dalam sistem negara sambil menikmati pembangunan ekonomi dan politik yang seimbang.
Namun, upaya ini menghadapi tantangan nyata. Pengumuman SDF untuk mematikan akses internet di Hasakah, khususnya bagi pendukung pemerintah, memperlihatkan bahwa mental penjajah belum sepenuhnya hilang di kalangan tertentu.
Langkah tersebut menimbulkan ketegangan dan menimbulkan persepsi bahwa sebagian pihak masih menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan nasional. Ketegangan semacam ini berpotensi menghambat proses integrasi yang sudah disepakati.
Perdamaian yang sesungguhnya menuntut lebih dari sekadar kesepakatan tertulis. Hal itu memerlukan sikap saling percaya, keterbukaan, dan penghargaan terhadap hak serta tanggung jawab masing-masing pihak.
Kemenangan yang dicapai melalui negosiasi dan kompromi harus dirayakan bersama. Perayaan sepihak hanya akan menimbulkan rasa kecewa dan kecurigaan, serta mengancam stabilitas jangka panjang.
Jika ketulusan tidak ditunjukkan, risiko konflik internal akan tetap tinggi. Situasi semacam ini bisa membuat Suriah mirip dengan Taiwan, yang terus berseteru dengan Beijing karena kurangnya integrasi dan saling percaya antara pihak pusat dan wilayahnya.
Dalam konteks Suriah, SDF harus menyadari bahwa pengelolaan wilayah secara sepihak, termasuk membatasi akses informasi, dapat menimbulkan ketegangan baru. Hal ini justru bertolak belakang dengan semangat integrasi yang diupayakan pemerintah.
Pemerintah Suriah, di sisi lain, juga dituntut untuk konsisten menunjukkan itikad baik, menghormati hak lokal, dan memberikan ruang bagi partisipasi masyarakat Kurdi dalam proses pemerintahan.
Ketulusan kedua belah pihak menjadi jaminan keberhasilan integrasi politik dan sosial. Tanpa itikad yang jelas, perjanjian damai hanya akan menjadi dokumen formal tanpa efek nyata di lapangan.
Masyarakat Hasakah dan wilayah timur laut lain harus merasakan manfaat langsung dari integrasi, baik dalam bentuk pembangunan ekonomi, infrastruktur, maupun layanan publik. Hal ini akan memperkuat legitimasi pemerintah pusat sekaligus mengurangi rasa ketidakpuasan lokal.
Sikap jujur dan terbuka dapat menumbuhkan kepercayaan yang hilang akibat bertahun-tahun konflik. Kepercayaan ini penting untuk menghilangkan stigma “mental penjajah” yang masih ada di sebagian kalangan Kurdi.
Integrasi yang berhasil akan menghadirkan model baru bagi negara pasca-konflik, di mana perbedaan etnis dan budaya tidak menjadi penghalang, melainkan aset untuk pembangunan bersama.
Langkah-langkah kecil, seperti koordinasi keamanan, pengelolaan administrasi sipil, dan kerja sama ekonomi, dapat menjadi fondasi bagi integrasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Partisipasi SDF dalam struktur pemerintahan pusat tidak hanya memberi mereka pengaruh, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga perdamaian dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Sementara itu, pemerintah Suriah harus memastikan bahwa hak-hak lokal diakui dan kebijakan nasional diterapkan secara adil. Keseimbangan ini menjadi kunci untuk menghindari dominasi sepihak atau rasa ketidakadilan.
Jika ketulusan tetap dijaga, Suriah memiliki peluang untuk menjadi contoh integrasi pasca-konflik yang sukses, seperti model Hongkong-Macao atau Alaska-Hawaii, di mana wilayah terpisah bisa berkembang setara dengan pusat negara.
Sebaliknya, jika ketulusan diabaikan dan langkah sepihak terus dilakukan, risiko konflik baru akan muncul, mirip dinamika antara Taiwan dan Beijing, yang memperlihatkan bagaimana ketidakpercayaan bisa menghambat pembangunan dan stabilitas.
Kesimpulannya, perdamaian Suriah antara pemerintah dan SDF bergantung pada ketulusan, itikad baik, dan perayaan kemenangan secara bersama. Hanya dengan cara ini, negara dapat bergerak menuju integrasi yang damai, stabil, dan berkelanjutan.

No comments