Misteri Nisan Barus di Binanga: Jejak Perdagangan Kuno di Pedalaman Subulussalam, Aceh
Penemuan 69 nisan Barus di situs Makam Raja Binanga, Subulussalam, Aceh, menimbulkan pertanyaan menarik tentang hubungan antara wilayah pesisir dan pedalaman di Aceh pada masa lampau. Keberadaan nisan-nisan tersebut, yang terbuat dari batu andesit berpori dan memiliki ciri khas yang berbeda dengan nisan Aceh, mengindikasikan adanya interaksi perdagangan dan budaya yang kompleks di wilayah ini.
Nisan-nisan Barus yang ditemukan di Binanga memiliki tiga bentuk utama: pipih, oktagonal, dan bundar. Nisan pipih, dengan dua variasi bentuk, menunjukkan kemiripan dengan nisan Syeikh Mahmud di Barus dan nisan Siti Amy di Singkel Lama. Kemungkinan besar, nisan-nisan pipih ini berasal dari abad ke-19, sezaman dengan nisan-nisan lain di Binanga.
Nisan oktagonal, atau segi delapan, juga memiliki dua variasi bentuk. Salah satunya dilengkapi mahkota berhias kelopak teratai dan motif sulur, sementara yang lainnya memiliki puncak berbentuk tiang. Meskipun sekilas mirip dengan nisan Aceh tipe J dan K, detail hiasan dan bahan pembuatannya sangat berbeda.
Berdasarkan morfologinya, nisan oktagonal ini diperkirakan berasal dari abad ke-18 dan ke-19.
Nisan bundar, dengan bentuk badan yang bervariasi, menunjukkan adanya perbedaan dalam gaya pembuatan.
Puncak nisan dibuat bundar, sementara badan nisan mengikuti bentuk alami batu. Tidak ada inskripsi yang terbaca pada nisan-nisan bundar ini, sehingga sulit untuk menentukan asal-usul dan kronologinya.
Keberadaan nisan Barus di Binanga, yang terletak di pedalaman, menunjukkan bahwa Binanga bukan hanya sekadar permukiman biasa. Situs ini memiliki peran penting dalam jaringan perdagangan kuno di Sumatra, yang menghubungkan wilayah pesisir dengan pedalaman.
Barus, yang terletak di pesisir, dikenal sebagai pusat perdagangan kapur barus dan rempah-rempah sejak abad ke-11. Binanga, yang terletak di pedalaman, mungkin menjadi tempat persinggahan atau pemukiman bagi para pedagang yang melakukan perjalanan antara Barus dan wilayah pedalaman.
Nisan-nisan Barus yang ditemukan di Binanga mungkin merupakan bukti adanya komunitas pedagang atau pemukiman yang terkait dengan Barus di wilayah ini. Hal ini menunjukkan bahwa Binanga memiliki peran penting dalam jaringan perdagangan kuno di Sumatra.
Penelitian lebih lanjut tentang nisan-nisan Barus di Binanga diperlukan untuk mengungkap lebih banyak informasi tentang hubungan antara Binanga dan Barus pada masa lampau. Penelitian ini dapat memberikan wawasan baru tentang sejarah perdagangan dan budaya di Aceh.
Penemuan nisan Barus di Binanga juga menunjukkan bahwa Binanga memiliki sejarah yang kaya dan kompleks. Situs ini bukan hanya sekadar tempat pemakaman, tetapi juga saksi bisu dari interaksi perdagangan dan budaya yang pernah terjadi di wilayah ini.
Penelitian tentang nisan-nisan Barus di Binanga dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman sejarah Aceh secara keseluruhan. Situs ini adalah bagian penting dari warisan budaya Indonesia, yang perlu dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.
0 comments:
Post a Comment